Gerakan dan Kepemimpinan (Sekolah Tjokro #2)



Sebelum membahas lebih jauh tentang gerakan dan kepemudaan, akan lebih baik memahami berbagai kelompok generasi. Berbagai kelompok generasi antara lain sebagai berikut :
  1. Generasi “Matures (Pra Baby Boom)” , yaitu orang yang lahir sebelum 1946 serta mengalami Perang Dunia I dan II.
  1. Generasi “Baby Boomers” , yaitu orang yang lahir setelah PD II  atau pada kisaran tahun 1946-1964 dimana manusia pada era itu memiliki angka kelahiran yang terbanyak pada sejarah umat manusia sehingga disebut era “Baby boom”, dan orang-orang yang lahir pada generasi ini disebut “Baby Boomers”.
  1. Generasi “X”, yaitu orang yang lahir ditahun 1965-1980. Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini.
  1. Generasi “Y”, yaitu orang yang lahir 1981-1994. Dikenal juga dengan istilah generasi millenia. Generasi Y banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, sms, instant messaging dan media pertemanan seperti facebook dan twitter dan suka dengan game online.
  1. Generasi “Z” (1995-2010) Generasi ini lahir dan dibesarkan di era serba digital dan teknologi canggih. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian mereka. Kiblat mereka adalah internet, sehingga mempermudah mereka mendapatkan akses informasi terkini. Sisi positif dari karakteristik generasi Z adalah mereka fasih dengan teknologi digital. Bill Gates menyebut generasi ini sebagai Generasi I atau Generasi Informasi.
  2. Generasi Alpha yaitu orang yang lahir ditahun 2011-2025. Jadi begitu lahir sudah mengenal smartphone, tablet, media sosial, serta bermacam teknologi yang semakin canggih.
Mengapa gerakan dan kepemudaan penting untuk dibahas? Salah satu alasannya adalah karena tanpa bergerak dan tanpa pemuda Indonesia saat ini belum merdeka. Pergerakan adalah kesamaan visi dan misi kelompok dalam mencapai sebuah tujuan sedangkan pemuda dicirikan sebagai orang yang berfisik yang kuat, memiliki pemikiran yang matang, serta bertanggung jawab atas diri masing-masing.  Dengan bersatunya dua komponen ini akan terwujud sebuah impian yang lama dicita-citakan tentunya disertai dengan kerja keras.
 “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya…
 Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
 -Soekarno-

            Saat ini, 66% populasi dunia didominasi oleh generasi Y (pemuda). Sifat yang mendominasi generasi Y adalah sebagai pelaku bukan pengikut, aktif disosial media, sulit diidentifikasi tetapi senang mencari solusi. Karena, hal tersebut saat ini pemerintah dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya mengikuti trend tersebut dengan membuat berbagai sosial media untuk menerima laporan dan membantu masyarakat.
            Pemuda sering diidentikkan dengan agen perubahan namun hal itu hanya menjadi wacana jika tidak ada visi dan misi yang jelas. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar menjadi agen perubahan adalah dengan membuat sebuah pergerakan.Cara menyusun pergerakan, antara lain :  1) Mengenal diri sendiri; 2)  Mengenal lawan; 3) Mengenal waktu dan medan; 4) Membedakan yang benar dan palsu; dan 5) Strategi dan manuver.
            Indonesia sudah sejak lama memiliki pergerakan  disetiap desa, yaitu karang taruna yang ada disetiap desa. Karang taruna memberdayakan pemuda desa untuk aktif dalam setiap kegiatannya baik ronda, pengajian, kerja bakti, perlombaan, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, berapakah jumlah pemuda di desa saat ini? Jawabannya sangat sedikit.Pemuda banyak yang memilihbekerja dikota dan hanya kembali ke desa ketika hari raya. Desa saat ini hanya ditinggali oleh para orang-orang yang menghabiskan masa tuanya.  Padahal di tahun 1970-an, Lipton pernah membuat riset tentang perkotaan yang  hasilnya : kota adalah penyebab banjir, ledakan penduduk, sedangkan desa adalah pelayan, penyokong. Ketika pedesaan diubah ke perkotaan masyarakat berubah menjadi individualis (urban-bios). Sehingga kesimpulannya kota adalah penyebab sedangkan desa adalah solusi. Lalu bagaimana kondisi desa saat ini?
Dalam membangun desa, dibutuhkan pembangunan. Mengapa infrastruktur? Karena infrastruktur adalah sarana untuk memajukan pembangunan. Dalam melakukan aktivitas ekonomi misalnya, jalan yang baik akan mempercepat pendistribusian barang, menekan harga jual, dan aktivitas ekonomi (jual-beli) dapat berjalan dengan lancar. Namun, sebaliknya ketika jalanan yang ditempuh sulit, misalnya jauh, berkelok-kelok dan tidak beraspal akan membuat distribusi barang lebih sulit. Hal ini akan berdampak pada harga barang yang murah dapat menjadi mahal harganya. Dengan infrastruktur yang baik, desa akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga masyarakatnya dapat mencapai kesejahteraan.
            Maka, kesimpulan yang dapat diambil adalah jadilah pemuda yang cerdas dengan menuntut ilmu,  mau mendengarkan masalah orang lain, membantunya menemukan solusi, bangun sebuah pergerakan dan sejahterakanlah desamu. Karena :
Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta.
Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin di desa
-Mohammad Hatta-

Sekian hasil catatan saya dari Sekolah Tjokro materi #2. Mohon kritik dan sarannya, terima kasih..

Komentar